Blog Kang Zen

Mengajak Anda Bergerak Dengan Sepenuh Hati

Archive for the ‘Motivasi’


Engkau adalah Sang Pemenang

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu mendapatkan kemenangan.

{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. An-Naba’ (78) : 31}.

Selama mutiara di hatimu masih kokoh bersemayam, tidak tergadai apalagi terjual, murah ataukah mahal, maka kemenangan itu selalu berulang, sebab mutiara itu obor harapanmu.Ibarat laskar yang pantang pulang sebelum kemenangan di tangan, membela mati-matian, terjatuh satu terbangun seribu. Bukan kebetulan, lantaran kemenangan yang sejati, sangat besar peluangnya untuk berulang. Mengulangnya pun gampang lantaran berjuang di dalam pertolongan Tuhan. Ya, mutiara tetaplah sebagai mutiara dimana pun ia berada.

Tapi dalam kepalsuan, kemenangan itu hanyalah jurang yang dalam, ia hanya menambah derita; semakin lebar tawa, justru semakin derita dunia. Ingat saja, kemenangan para munafiqin hanya sementara, hanya membuat semesta alergi dan, para musisi hati pun mencari teman-teman sinergi, yaitu orang-orang bertaqwa sepertimu; untuk lebih fokus pada kemenangan sejati.

Kemenangan sejati itu FITRAH. Setiap dirimu dihadirkan sebagai pemenang sejati. Dan kau harus meyakini hal itu, sebab itu bukanlah semu, tiada trik dan tipu. Walau tak selamanya engkau memenangkan petualanganmu, tapi yakinlah bahwa selamanya engkau adalah sang pemenang. Percayalah, melodi kemenanganmu masih terpelihara hingga kini. Tarik nafasmu perlahan, dan rasakanlah memori kemenangan yang sejati itu.

Masih ingatkah, dulunya, dari sekitar setengah milyar sel spermatozoa yang terlepas bahagia, saat ledakan start lomba bersama purnama cinta, maka engkaulah satu-satunya yang bertahan, lantaran engkaulah sel spermatozoa yang paling sabar, paling tahu jalan, paling ikhlas, paling bertawakkal, paling bersyukur, paling mengerti tentang cinta, paling istiqomah, paling tinggi harapannya, sehingga engkau pun terus bergerak lincah bergairah menuju piala “ovum” yang tersedia hanya satu-satunya.

Kau pun meraihnya, memenangkan piala cinta; ya sendirian saja - walau kadang berdua, tapi sangat jarang si kembar tercipta. Seringnya, hanya satu pemenang tersisa. Dan, engkaulah satu-satunya pemenang itu, yang tersisa dari lima ratus juta. Buktinya kau terlahir di dunia ini. Silakan saja berbangga, tapi yang terpenting bersyukurlah, sebab kau terlahir sebagai sang pemenang, sang juara, sang penerima ruh suci dari-Nya, sang penerus harapan yang mulia.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Insyiroh (94) : 7-8}

Sekali lagi aku yakinkan, engkaulah pemenang itu. Maka buanglah putus asamu, dan sambunglah asamu dan asa para saudaramu. Bersilaturahimlah. Jangan ceraikan apapun yang sudah baik bersatu, terlebih hanya lantaran ada satu dua tidak setuju. Lebih baik bersatu dengan sedikit dosa, daripada sendiri dengan membawa bangga, merasa paling suci. Percayalah, orang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, tapi orang terbaik adalah orang yang segera bersuci dan bertaubat ketika dosa tak sengaja itu mengurangi kualitas bening mutiara hatinya.

Itu sebabnya, lepaskanlah egomu jika kau kini masih merasa menang sendirian,lalu suka mendominasi dan suka memaksa, sebab ternyata, siapapun manusia yang pernah kau lihat di semesta ini adalah sang pemenang. Sang satu-satunya. Memiliki jiwa fitrah yang sama denganmu, yaitu fitrah sang pemenang. Hei, daripada ego yang dipelihara, bukankah lebih bijak jika mutiara FITRAH yang disinergikan.

Tawakkalkan CINTAmu yang terJAtuH

Jatuh cinta itu ajaib. Walaupun sepertinya “jatuh cinta” itu tidak sebaik “bangkit cinta, tapi “jatuh cinta” itu bisa sangat selaras dengan “bangkit cinta”. Hei, kenapa harus jatuh? Jawabnya : karena engkau harus bangkit. Siapa pun akan lebih mudah untuk bangkit, ketika sudah pernah terjatuh.

Tapi sahabatku, kalau jatuh melulu terhadap cintamu itu, maka kau telah salah jatuh. Salah tersungkur. Engkau hanya patut menjatuhkan dirimu pada Allah SWT, sehingga kekuatanmu untuk bangkit jauh lebih murni, mesra, dan harmonis dengan semesta, terutama dengan Sang Pencipta.

Jatuh itu lebih positif ketika kau sedang melangkah ke depan. Sebab jatuhmu relatif menuju ke depan. Artinya, ada kemajuan. Jangan jatuh dalam keadaan diam, apalagi tatkala melangkah mundur. Biasanya jatuhmu pun ke belakang, terjungkal, tidak ada kemajuan, bahkan luka kepala bagian belakang, mungkin saja berakibat kematian. Akhirnya wassalam.

Cinta yang dipendam itu mirip dengan kematian, minimal pingsan, atau terlalu lama ketiduran. Perlu dibantu oksigen murni untuk bangkit. Motivasi dari semesta Al-Quran, melodi suci kehidupan. Walau sekedar bangkit tuk membuktikan satu kata penolakan. Tapi setidaknya, kejelasan arah asmara, lebih berkiblat, bila terdendang “ya atau tidak, itu saja”.

Begitulah manusia, dalam kelabilannya seringkali malah ingin menambah labil hidupnya. Rupanya, makin labil makin asyik, sebab makin memahami kestabilan. Lepas dari itu, ada satu cinta yang jika engkau tulus membuktikannya, jawabannya pasti positif. Cintailah Allah dan Rosul-Nya. Tulus dan murni, tanpa justifikasi sesama. Ingat, jatah syurga dan neraka masih rahasia di balik ketentuan-Nya yang tegas sempurna. Tidak perlu saling menyalahkan, apalagi atas nama cinta.

Sebagai koreksi sang hati, mungkin jika saat ini ada di antaramu yang terkena visus merah jambu, lalu terjangkit demam cinta, batuk asmara, merinding dan meradang; berarti mungkin saja cintamu pada-Nya belum paripurna, cintamu pada rosul-Nya belum sedalam lautan angkasa. Jangan pendam cintamu, jangan padamkan energimu. Curahkan saja tanpa malu, kepada-Nya, Zat Penguasa Cinta, pencipta sang pangeran cinta.

Hei, bukan tidak boleh jatuh cinta pada libido asmara, dan pada keinginanmu menghargai ciptaan-Nya yang indah menawan, membuat bunga di jantungmu. Asalkan nafsu itu tersyari’atkan, filter di kerajaan Tuhan.

Sehingga waspadalah, jika cintamu langsung horizontal, maka kefanaannya kilat dan kehancurannya dekat. Itu sebabnya hadirkanlah cinta yang vertikal, transedental, pasti jauh lebih maksimal. Biarkan cintamu tersaring di ‘Arsy-Nya yang tinggi, bersama syariat Ilahi, agar yang terdistribusi ke bumi tinggal cinta yang murni, lebih mengabadi dan suci.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Baqoroh (2) : 165}